BeritaHR

Media Belajar Human Resources

Validitas Sosial dan Angka Kemiskinan

leave a comment »

JAKARTA –KoranHR.com,

KALAU kita membaca jawaban pemerintah terhadap pandangan umum fraksi-fraksi DPR terhadap nota keuangan dan RAPBN tahun anggaran 2009 tanggal 26 Agustus yang lalu, ada satu pertanyaan dari DPR RI yang menurut hemat saya tidak dijawab dengan benar oleh pemerintah. Pertanyaan yang dimaksud berkenaan dengan adanya kesenjangan antara data penurunan angka kemiskinan dan faktanya di lapangan. Sebagaimana yang diketahui, pemerintah mengatakan bahwa per Maret 2008 angka kemiskinan mencapai 34,96 juta jiwa atau 15,42% dari total penduduk Indonesia. Ini berarti telah terjadi penurunan penduduk miskin sebesar 2,21 juta jiwa sepanjang 2007-2008 mengingat angka kemiskinan per Maret 2007 tercatat sebesar 37,17 juta jiwa atau 16,58% dari total penduduk Indonesia.

Menurut pemerintah, tidak ada kesenjangan antara data penurunan angka kemiskinan dan fakta lapangan sepanjang Maret 2007-Maret 2008 karena data penurunan kemiskinan tersebut telah sesuai dengan sejumlah fakta sebagai berikut (lihat hal 5 dan lampiran hal L6 Jawaban Pemerintah terhadap pandangan umum fraksi-fraksi DPR RI terhadap Nota Keuangan dan RAPBN 2009). Pertama, Selama periode Februari 2007 – Februari 2008 jumlah pengangguran berkurang. Tingkat pengangguran yang terbuka pada Februari 2007 sebesar 9,75% (10,55 juta orang) turun menjadi 8,46% (9,43 juta orang) pada Februari 2008. Turunnya pengangguran itu karena terbukanya lapangan kerja di sektor informal secara luas sehingga membuka kemungkinan untuk mengurangi jumlah penduduk miskin. Kedua, sepanjang Maret 2007 sampai Maret 2008 laju inflasi relatif terkendali, sebesar 8,17%. Kondisi itu kemungkinan karena adanya peningkatan pendapatan riil masyarakat, termasuk mereka yang sebelumnya masuk kategori sebagai penduduk miskin. Ketiga, selama periode yang sama juga tercatat ada penurunan harga beras sebesar 3,01%.

Data konsumsi mutakhir menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga pengeluaran bulanan penduduk miskin dialokasikan untuk membeli beras sehingga penurunan harga komoditas tersebut secara langsung menyebabkan bertambahnya pendapatan riil penduduk miskin. Keempat, rata-rata upah riil harian buruh tani tercatat naik sebesar 0,90% pada periode yang sama. Dengan sekitar 70% penduduk miskin pedesaan bekerja di sektor pertanian, peningkatan upah itu berarti ada tambahan daya beli mayoritas penduduk miskin. Ketika DPR RI menyatakan adanya kesenjangan antara data penurunan angka kemiskinan dan fakta di lapangan maka sesungguhnya mereka sedang mempertanyakan validitas data yang disampaikan oleh pemerintah. Menurut hemat saya, validitas data penurunan angka kemiskinan itu terletak dari bagaimana angka tersebut juga disepakati oleh banyak pihak, khususnya oleh masyarakat yang menjadi objek ukuran.

Percuma mengklaim turunnya angka kemiskinan, jika parameter pemerintah tentang fenomena kemiskinan bervaliditas sosialnya rendah. Validitas sosial itu merupakan terminologi yang merujuk pada suatu keadaan yang menunjukkan bahwa pemerintah memang telah mengukur ‘parameter angka kemiskinan’ sebagai sesuatu yang memang dipikirkan pemerintah. Bahwa yang sedang diukur itu kongruen dengan yang dipikirkan atau dialami oleh masyarakat. Menurut hemat kita angka penurunan kemiskinan tersebut bervaliditas sosial rendah, mengapa? Pemerintah menggunakan garis kemiskinan 2008 itu sebesar Rp182.636 per bulan.

Artinya, dalam benak pemerintah sebuah rumah tangga yang telah mempunyai penghasilan minimal Rp6.100 sehari sudah lepas dari garis kemiskinan. Pertanyaannya, apakah parameter Rp182.636 itu cukup representatif mewakili pembatas antara kelompok yang miskin dan kelompok masyarakat yang tidak tergolong miskin. Bayangkan seandainya rumah tangga anda saat ini berpenghasilan sebesar Rp6.100–Rp10.000 per hari (setara dengan Rp183.000–Rp300.000 per bulan). Dalam kondisi yang sedemikian merujuk pada parameter pemerintah, rumah tangga anda tidak masuk kategori miskin.

Pertanyaan selanjutnya, realistiskah rumah tangga dengan pendapatan yang sedemikian itu tidak lagi terkategori miskin? Dengan pendapatan per kapita yang sedemikian, mungkin hanya cukup untuk makan saja, lalu bagaimana dengan pakaian, rumah walaupun sangat sederhana, bagaimana dengan biaya sekolah anak-anak, dan kebutuhan dasar lainnya. Pastilah rumah tangga yang bersangkutan harus menambah pendapatannya dengan hutang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok tersebut dengan standar yang paling minimum sekalipun. Lalu dalam kondisi yang sedemikian itu mereka dikategorikan sebagai rumah tangga yang tidak lagi miskin, realistiskah? Karena angka garis kemiskinan yang ditetapkan pemerintah tersebut terlalu rendah, akibatnya banyak rumah tangga yang sebenarnya realitas kehidupannya miskin, tetapi dalam survei kemiskinan tidak dimasukkan dalam kelompok miskin.

Itulah yang menimbulkan adanya kesenjangan yang dirasakan kita semua, di satu sisi ada pernyataan bahwa angka kemiskinan turun secara cukup signifikan, tetapi di sisi lain kita tidak melihat adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat yang masuk akal dalam realitas sehari-hari. Indikasi tambahan bahwa data penurunan angka kemiskinan yang diungkap pemerintah tersebut mempunyai validitas sosial yang rendah, bisa dilihat dari fenomena tren turunnya popularitas pemerintah berkaitan dengan kinerja ekonomi mereka dalam sejumlah survei. Kalaulah peningkatan kesejahteraan ekonomi terasa nyata oleh masyarakat, yang salah satunya dilihat dari turunnya angka kemiskinan, tentulah akan berkorelasi positif dengan apresiasi publik kepada pemerintah. Tentu saja semua itu berimbas dengan kenaikan popularitas pemerintah dimata publik, bukan sebaliknya. Oleh Dr Andi Irawan Dosen Ekonomi STEI Tazkia dan Universitas Bengkulu.

(Bersambung Ke halaman 3 Kol 5)

Written by brammantya kurniawan

September 3, 2008 at 6:03 am

Posted in Berita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: