BeritaHR

Media Belajar Human Resources

[Hukum-Online] Tiga JAM di Ujung Tanduk

leave a comment »

Tiga JAM di Ujung Tanduk

Jaksa Agung Janji Beri Sanksi Hari Ini

JAKARTA – Kejaksaan Agung berjanji bertindak tegas terhadap para jaksa yang terkait kasus Artalyta Suryani alias Ayin. Meski belum berhasil memintai keterangan Ayin, Jaksa Agung Hendarman Supandji menegaskan akan mengumumkan sanksi terhadap beberapa pejabat Kejagung hari ini.

Pernyataan Hendarman tersebut diungkapkan dalam rapat kerja antara jajaran Kejagung dan Komisi III (bidang hukum) DPR yang berlangsung kemarin (25/6) hingga tadi malam. Rapat itu berlangsung secara maraton mulai pukul 10.00 dan berakhir sekitar pukul 24.00 tadi malam. "Meski dia (Ayin, Red) tidak diperiksa, kami sudah memutuskan untuk jabatan yang bersangkutan (para jaksa yang terkait kasus itu, Red). Jadi, besok (hari ini, Red) sudah ada keputusan tentang keterlibatan pejabat dengan Artalyta,'' ujar Hendarman.

Kejagung, lanjut dia, sebenarnya masih ingin mendengarkan keterangan istri bos Gadjah Tunggal Suryadharma itu. Tujuannya, mengukur derajat kesalahan beberapa jaksa yang dinilai memiliki hubungan dengan Ayin. Namun, hal itu terkendala belum diterimanya izin secara tertulis dari majelis hakim pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang menyidangkan perkara Ayin dalam kasus suap jaksa BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia).

Seperti diberitakan, tiga jaksa senior diduga melanggar PP Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri terkait hubungannya dengan Ayin. Ketiganya adalah Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (JAM Datun) Untung Udji Santoso, JAM Intelijen Wisnu Subroto, dan mantan JAM Pidana Khusus (Pidsus) Kemas Yahya Rahman. Sebelumnya mereka menjalani pemeriksaan internal oleh jajaran pengawasan yang dipimpin langsung JAM Pengawasan M.S. Rahardjo.

Namun, Hendarman menggarisawahi, keputusan yang akan diambil hari ini hanya sebatas memindahkan pada jabatan tertentu alias mencopot mereka dari jabatan sekarang. Sebab, untuk menjatuhkan hukuman sesuai dengan PP 30/1980, misalnya pemecatan, masih harus menunggu hasil persidangan Ayin dan Urip Tri Gunawan. Hal itu pernah dilakukan Hendarman terhadap Kemas Yahya Rahman yang digeser dari jabatan JAM Pidsus dan M. Salim dari posisi direktur penyidikan pada JAM Pidsus beberapa hari setelah jaksa Urip ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Dari hasil persidangan itulah, lanjut Hendarman, pihaknya dapat mengetahui apakah uang suap USD 660 ribu yang diterima Urip karena ada pihak lain yang menyuruh atau ikut dalam pembagian uang tersebut atau tidak. ''Bukan menunda (hukuman, Red), tapi menunggu apa yang ada dalam persidangan karena ini akan berkembang,'' terang alumnus Fakultas Hukum Undip, Semarang, itu.

Mantan JAM Pidsus tersebut menyatakan akan memberikan sanksi tegas kepada bawahannya yang terbukti melanggar peraturan. Namun, itu harus didasari alasan yang kuat. ''Kalau fondasinya belum kuat, saya bisa salah sendiri. Apa hanya gara-gara percakapan 'good…very good itu' orang bisa dipecat (dari PNS, Red),'' urai Hendarman, sembari mengutip salah satu rekaman pembicaraan antara Ayin dan Kemas. Menurut dia, dirinya bisa dituntut jika memberikan keputusan tanpa dasar yang kuat.

Namun, Hendarman mengelak ketika didesak wartawan tentang siapa saja yang akan mendapat sanksi tersebut. Begitu juga mengenai bentuk sanksinya. ''Besok saja. Besok (hari ini, Red),'' elaknya saat istirahat untuk makan siang kemarin.

Dari pengamatan koran ini, ada yang berbeda dalam jajaran pejabat eselon I yang mendampingi Hendarman di DPR kemarin. Tidak tampak JAM Datun Untung Udji Santoso dalam rombongan Kejagung. Posisi Untung digantikan Sesjamdatun Suhartoyo. Dia duduk di nomor empat di kiri Hendarman setelah Wakil Jaksa Agung Muchtar Arifin, JAM Intelijen Wisnu Subroto, dan JAM Pidana Umum (Pidum) Abdul Hakim Ritonga. Di kanan Hendarman berturut-turut adalah JAM Pidsus Marwan Effendy, JAM Pembinaan Parmono, dan JAM Pengawasan M.S. Rahardjo.

''Pak JAM Datun (Untung Udji, Red) sedang berhalangan,'' kata Hendarman tanpa merinci lebih jauh. Wakil Jaksa Agung Muchtar Arifin yang ditemui saat skors rapat sekitar pukul 17.00 juga menolak menjawab. Dia malah tersenyum saat ditanya keterkaitan tidak hadirnya Untung Udji dengan rencana diputuskannya nasib tiga jaksa senior hari ini.

Secara struktural, jika seorang JAM dinonatifkan, posisinya akan digantikan Sesjam sebagai pelaksana tugas. Ketika Jawa Pos mencoba memberikan selamat kepada Sesjamdatun Suhartoyo, dia malah tersenyum. ''Belum… belum," katanya.

Selain Untung Udji, Kemas Yahya tidak tampak di jajaran staf ahli jaksa agung yang mengikuti raker tersebut. Sebab, mantan Kapuspenkum Kejagung itu tengah menjadi saksi dalam persidangan Ayin di Pengadilan Tipikor.

Desakan agar ada tindakan tegas dari jaksa agung menjadi topik hangat dalam raker yang dipimpin Wakil Ketua Komisi III Mulfachri Harahap itu. Gayus Lumbuun dari FPDIP, misalnya. Dia meminta jaksa agung langsung menindak mereka yang telah menyimpang dari aturan. ''Lakukan penonaktifan sambil menunggu proses hukum. Jaksa Agung harus memiliki sebuah keyakinan bahwa itu untuk perbaikan,'' tegas Gayus.

Anggota Komisi III yang lain, Patrialis Akbar, malah meminta jaksa agung tidak hanya memberikan sanksi administrasi, namun juga berlanjut pada sanksi secara pidana. "Kalau hanya administratif, nggak efektif,'' kata politikus PAN itu.

JAM Intelijen Wisnu Subroto menyatakan pasrah atas rencana penjatuhan sanksi hari ini oleh jaksa agung. ''Kalau nama saya disebut (terkena sanksi, Red), itu terserah pimpinan saja,'' katanya.

Namun, dia menyatakan tidak terlibat secara langsung dan tidak mengetahui duduk permasalahan sebenarnya. ''Nama saya kan tidak disebut Ayin. Salah saya apa?" imbuhnya.

Dalam kesempatan sebelumnya, JAM Pengawasan M.S. Rahardjo mengatakan, indikasi awal pelanggaran baru ditemukan pada JAM Datun Untung Udji Santoso dan mantan JAM Pidsus Kemas Yahya Rahman.

Selain memberikan keterangan tentang rencana hari ini, Jaksa Agung Hendarman Supandji dalam raker tersebut juga mengklarifikasi tentang adanya skenario untuk mengamankan Ayin dari penangkapan KPK. Seperti diberitakan sebelumnya, Hendarman juga membantah adanya skenario tersebut. Rencana penangkapan itu dilakukan karena melihat adanya suatu tindak kejahatan yang didiamkan, yakni si penyuap tidak ditangkap KPK, namun penerima suap ditangkap.

Raker jaksa agung dengan Komisi III DPR kemarin sempat diwarnai kehadiran tujuh perempuan seksi yang tergabung dalam Solidaritas Wanita Tuntaskan Korupsi dan Suap di Indonesia. Maksud kedatangan mereka ialah memberikan dukungan kepada jaksa agung agar tegas dalam menuntaskan berbagai problem korupsi dan suap. Bingkisan berisi beberapa macam obat kuat pun hendak diberikan kepada Hendarman. Namun, aksi itu urung dilakukan karena mereka segera diamankan petugas pamdal (pengamanan dalam) DPR. (fal/nw)

Sumber : jawa Pos
++++++++++++++++++++++++++++++++++
Artalyta Niat Jatahi Jaksa Lain

Wednesday, 25 June 2008

Image

BERSAKSI Mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kemas Yahya Rahman dikawal ajudannya seusai memberikan kesaksian pada sidang kasus suap dengan terdakwa Artalyta Suryani di Pengadilan Tipikor, Jakarta, kemarin. Kemas dicecar pertanyaan seputar pembicaraan telepon dengan Artalyta.

JAKARTA(SINDO) – Terdakwa kasus suap Artalyta Suryani berniat akan membagi-bagikan jatah kepada pejabat di Kejaksaan Agung (Kejagung).

Para pejabat itu di antaranya sekretaris jaksa agung muda (Sesjam) dan para jaksa agung muda (JAM). Niat tersebut terungkap dari transkrip pembicaraan Artalyta dengan seseorang yang disebut sebagai “ibu”.Transkrip pembicaraan tersebut dibacakan anggota Majelis Hakim Andi Bachtiar dalam persidangan kasus ini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor),Jakarta,kemarin.

“Tolong nanti kekurangannya Ibu,ini kan yang di bawah ini, JAM,ini Sesjam,Si Udji, semua belum saya bagi.Permintaan Artalyta itu kemudian dijawab sang ibu dengan mengatakan, Ya, oke-oke,” ungkap Andi saat membacakan transkrip rekaman pembicaraan Artalyta. Sedianya, hakim berniat memutarkan rekaman pembicaraan yang disadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 1 Maret 2008 tersebut.

Namun karena tim penasihat hukum Artalyta yang diketuai Otto Cornelis Kaligis menolaknya, pemutaran rekaman ditiadakan. Transkrip tersebut masih menyimpan misteri tersendiri. Persoalannya, dari rekaman pembicaraan itu tidak diungkapkan secara jelas siapa yang dimaksud dengan “ibu”.

Bahkan, pembicaraan itu juga belum memberi gambaran jelas apa yang akan dibagikan Artalyta kepada sejumlah petinggi Kejagung tersebut. Namun, ada indikasi kuat sang “ibu” yang dimaksud adalah Itjih Nursalim,istri pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia Sjamsul Nursalim. Sebab, dalam fakta persidangan sebelumnya,Artalyta diketahui pernah menelepon dan bertemu dengan Itjih Nursalim.

Tidak hanya itu,Artalyta bahkan pernah membawa mantan Ketua Tim Jaksa Penyelidik Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Urip Tri Gunawan bertemu dengan Itjih di sebuah hotel di Jakarta. Bahkan, surat dakwaan jaksa penuntut umum pun menyatakan Urip pernah menerima Rp100 juta dari Artalyta. Sebelumnya, Urip juga meminta Artalyta agar memikirkan sepuluh orang jaksa lain yang tergabung dalam tim penyelidik perkara BLBI.

Sementara itu, Artalyta menegaskan pemberian uang USD660.000 kepada Urip tidak ada kaitannya dengan mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kemas Yahya Rahman atau petinggi lain di Kejagung.Artalyta juga menyatakan dirinya tidak memiliki kepentingan dengan perkara yang menjerat Sjamsul Nursalim. Bahkan, Artalyta mengaku mendapat informasi Sjamsul sakit dari internet.

“Berdasarkan informasi yang saya lihat di internet bahwa Pak Sjamsul akan dimintai keterangan, maka saya mempunyai inisiatif sendiri untuk menanyakan langsung kepada Pak Kemas,”kata Artalyta. Kedatangannya ke ruangan Jampidsus,yang saat itu dijabat Kemas Yahya Rahman, hanya untuk menanyakan kebenaran informasi yang dilihatnya di internet.”Dan saya anggap itu bukan tindakan hukum dan kriminal,” tandasnya.

Adapun untuk nama Joker yang sempat disebutkannya dalam rekaman pembicaraan dengan Kemas,Artalyta mengaku istilah itu untuk kasus Djoko Tjandra, pemilik Bank Bali. Namun,Artalyta membantah kasus Djoko Tjandra terkait dengan kasus suap kepada Urip. “Terkait dengan Joker tidak ada kaitannya dengan dakwaan pemberian suap kepada Urip.Tidak ada kaitannya dengan Kemas,demi Tuhan,”tegasnya.

Senada juga diungkapkan Kemas Yahya Rahman saat bersaksi dalam persidangan ini. Dia mengaku tidak tahumenahu tentang niat Artalyta untuk membagi jatah itu.Namun, Kemas mengaku pernah bertemu dengan Artalyta di ruang kerjanya pada 2003 atau 2004. Kemas mengaku dirinya memang menghubungi Artalyta pada 1 Maret 2008, sehari setelah pengumuman penerbitan surat penghentian penyidikan perkara BLBI.

Kemas beralasan, pembicaraannya dengan Artalyta berdasarkan niatnya untuk memberi tahu Artalyta tentang penghentian penyelidikan BLBI. “Ini sebagai asas transparansi,” katanya. Namun, sedikit demi sedikit nada bicara Kemas melemah dan sedikit terbata-bata ketika hakim Andi Bachtiar mulai mencecar tentang ucapan Kemas dalam pembicaraan telepon yang dianggap janggal.

Dalam pembicaraan yang disadap pukul 13.17 WIB itu, Kemas mengatakan “….Nanti ada cara lain….” sebagai jawaban atas ucapan Artalyta yang ingin membahas soal Joker.Ketika ditanya maksud ucapan “cara lain”itu,Kemas berdalih hal itu hanya untuk mengakhiri pembicaraan dengan Artalyta.Mengenai istilah Joker, Kemas mengaku bahwa yang dimaksud itu adalah Djoko Tjandra. Dalam pembicaraan sadapan itu,Artalyta terus memaksa untuk membicarakan Joker.

Atas desakan itu,Kemas kemudian mengatakan, “….Nggak usah, nanti gampang itu….”. Bahkan, Kemas juga mengatakan sudah mendapatkan “pesan”.HakimAndi Bachtiar pun kemudian mencecar pertanyaan terkait maksud katakata itu. Dengan sedikit terbata- bata, Kemas kembali menjawab bahwa dirinya hanya asal bicara saja.”Saya asal bicara saja,”ujarnya.

Rekaman pembicaraan juga mengungkap bahwa Kemas menjanjikan “cara lain” tentang Joker. Namun, Kemas kembali beralasan dirinya asal bicara ketika mengucapkan hal itu. Diketahui sebelumnya,Artalyta dan Urip Tri Gunawan ditangkap penyidik KPK pada 2 Maret 2008,karena diduga terlibat dalam tindak pidana suap.Penyuapan itu diduga terkait bantuan yang diberikan Urip dalam memberikan informasi dan masukan tentang penanganan perkara BLBI yang menjerat Sjamsul Nursalim. (rahmat sahid)  

Sumber: SIndo


**********************************

__._,_.___

———- [ Hukum-Online-subscribe@yahoogroups.com ] ———>
       SARANA MENCARI SOLUSI KEADILAN HUKUM DI INDONESIA
Mailing List Hukum Online adalah wadah untuk saling bertukar pikiran dan berkonsultasi untuk saling membantu sesama. Isi diluar tanggung jawab Moderator.

Notes :
Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun masyarakat Indonesia yang Sadar akan Hukum serta membantu program Corporate Social Responsibility (CSR), maka Milis Hukum Online mencari pembicara yang memiliki kompetensi di bidang Hukum. Tujuannya adalah mencerdaskan & membuat bangsa Indonesia sadar akan Hukum melalui kegiatan/aktivitas yang terjangkau masyarakat.

Apabila anda berminat, kirimkan CV anda ke : hukum.online@yahoo.co.id disertai dengan spesialisasi keahlian anda.
Kami tunggu kabar baik dari rekan-rekan.

Salam
Hukum Online

==================================================
Search Engine Terpopuler Anak Bangsa
http://djitu.com
Gunakan Untuk Kepentingan Anda
==================================================
Health & Spiritual
http://healthconsultancy.blogspot.com/
http://light-energy.blogspot.com/
http://spiritualisindonesia.blogspot.com/
http://healingmedication.blogspot.com/
==================================================
Hobby & Fun
http://dragonfish-arowana.blogspot.com/
http://goldfish-world.blogspot.com/
http://cat-owner.blogspot.com/
http://homeperfumes.blogspot.com/
==================================================
Compensation & Benefit
http://compensationbenefithandbook.blogspot.com/
http://salarysurvey-indonesia.blogspot.com/
Informatif & Bermanfaat bagi HRD
==================================================
Pasang iklan bisnis anda di :
http://www.SentraBisnis.com/
Pusat Iklan baris & Bisnis Populer Indonesia
GRATIS !! GRATIS !!

MARKETPLACE

Attention, Yahoo! Groups users! Sign up now for a one-month free trial from Blockbuster. Limited time offer.

Recent Activity

Visit Your Group

Ads on Yahoo!

Learn more now.

Reach customers

searching for you.

Special K Group

on Yahoo! Groups

Join the challenge

and lose weight.

Yahoo! Groups

Home Improvement

Learn and share

do-it-yourself tips.

.


__,_._,___

Written by brammantya kurniawan

June 26, 2008 at 12:10 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: