BeritaHR

Media Belajar Human Resources

Re: [Diskusi HRD Forum] Psikotest

leave a comment »

Saya ingin urun pendapat nih
 
Berdasarkan pengetahuan&pengalaman saya, lulusan sarjana psikologi diizinkan u/ melakukan psikotes, sebab ada psikolog yang memayunginya.
Bahkan ada beberapa biro yg menggunakan tester orang non psikologi, hal ini tidak menjadi masalah sebab tester telah dibekali dengan petunjuk pelaksanaan & hanya sebatas sebagai pemberi tes tidak u/ melakukan interpretasi, sebab hal ini yg menjadi wewenang psikolog. Begitu pula dg sarjana psikologi biasanya hanya sebagai pelaksana untuk memberikan tes hingga melakukan skoring, kalaupun melakukan interpretasi hasilnya akan dicek/ dikoreksi o/ psikolog dari biro atau perusahaan tersebut.
Hal ini juga saya lakukan sekarang, apabila ada psikotes di kantor saya maka saya melaksanakan dari pemberian tes, skoring hingga interpretasi namun hasil akhir dikonsulkan pada psikolog perusahaan yg berada di kantor pusat.
Sharing dengan teman2 saya yg terjadi dilapangan juga dilakukan hal yg sama seperti apa yg saya lakukan.
Terima kasih
 
Salam,
Yesi S. 
—– Original Message —–
Sent: Tuesday, June 10, 2008 12:23 PM
Subject: Re: [Diskusi HRD Forum] Psikotest

Dear Pak Sandi,

Mohon Informasi, apakah berarti lulusan Sarjana Psikologi di Universitas Tarumanegara “diizinkan” untuk melakukan psikotes tanpa perlu mengambil profesi psikolog ? …seperti uraian bapak “etika yang saya sampaikan terdahulu adalah lebih kepada, bolehkah kita melakukan sesuatu? kalau kita memang yakin dan memiliki kemampuan kesana silahkan saja dilakukan.”. So kalo boleh tau, apa sih tujuan nya mendirikan Pendidikan Profesi Psikolog di Universitas Tarumanegara dan kemudian mendapatkan registered sebagai psikolog dari Himpsi ? bila tidak ada bedanya antara Sarjana Psikologi dan Psikolog dalam menginterpretasi psikotes, mungkin Bapak sebagai Head od Undergraduate Program Psychology Faculty di Unversitas Tarumanegara bisa membantu menjelaskan.

Terima kasih

eka

2008/6/9 sandi K <seinama2003@yahoo.com>:

Memang betul apa yang ditulis oleh Pa Mahmoud dan Pa Neil, bahwa tidak hanya sekedar etika semata.
etika yang saya sampaikan terdahulu adalah lebih kepada, bolehkah kita melakukan sesuatu? kalau kita memang yakin dan memiliki kemampuan kesana (karena tidak semua psikolog senang yang namanya Psikometri, dan untuk yang ini saya sangat setuju dengan Pa Mahmoud, karena angkatan saya saja, hanya 1 orang yang melanjutkan ke psikometri, sisanya tidak mau) silahkan saja dilakukan.
 
sisanya memang harus kerjasama antar lintas ilmu. karena ilmu itu tidak ada yang berdiri sendiri, akan tetapi saling melengkapi, kan.
 
 

Sandi Kartasasmita 
Head of Undergraduate Program
Psychology Faculty
Tarumanagara University
(021) 5661334

www.allaboutpsychology.wordpress.com

 

—– Original Message —-
From: Mahmoud Herudinejad <mahmoudherudinejad@yahoo.com>
To: Diskusi-HRD@yahoogroups.com
Sent: Monday, June 9, 2008 11:10:17 AM
Subject: Re: [Diskusi HRD Forum] Psikotest

salam mualaykum,
Pak Neil dan Pak Sandi
 
waduh kita mungkin harus kebelakang lagi apa itu psikotest atau psychometric test, jangan-jangan kita sendiri Wabil khusus saya sendiri dulu aja yang tidak bisa membedakan mana test dan psikometrik test —-> Nah psikotest yang dimaksud itu apakah didentik dengan psikometrik test, atau psychological assessment secara keseluruhan.  Kenapa ini penting saat ini aja dikalangan user tidak bisa membedakan ketiga istilah itu je.
 
Yang kedua, sebenarnya badan di Indonesia yang ngurusin ini siapa? kalo di US ada AERA, APA, dan NCME American Educational Research Association (AERA),  American Psychological Association (APA), National Council on Measurement in Education (NCME).  Jika teman teman mau download aturan mainnya silakan explore :
 
 
saya yakin, HIMPSI juga tidak bisa berdiri sendiri dalam hal ini.
 
Yang ketiga, apakah Psikotest itu ranahnya psikologi— —> mari kita lihat faktanya :
 –  Berapa jumlah alat test yang dikembangkan oleh psikolognya sendiri?  hiks jangan sedih
    kalo jumlahnya dikit.
 –  Berapa jumlah psikolog yang bener-bener memperdalam soal psikometri, terutama
    konsep pengembangan psikometrik test? jangan sedih jika angkanya tidak lebih dari 2%
   dari psikolog yang ada.
 –  Mata Kuliah Konstruksi Test —-> mata kuliah favorit atau Mata Kuliah Terkutuk? silakan
   dijawab oleh yang pernah mengikutinya.
 
Apa akibatnya, kita….? kita, elo aja kali kata anak saya.  terjebak hanya sebagai user yang pasif terhadap perkembangan alat test itu sendiri, yang lebih parahnya kita menjadi taqlid terhadap test tertentu, yang istilah Pak Neil jadi mempersempit wacana.   Akhirnya sikap yang demikian menjadikan kebakaran jenggot dan ekslusifitas yang berlebihan.  Hal ini juga membentuk sikap yang sangat resisten terhadap pengembangan test baru, fanatisme dengan test-test yang dikembangkan jamannya kuda gigit besi (emang ada ya jamannya).
 
Jadi saran saya Pada Profesi Psikologi harus/ mau tidak mau bahwasanya suatu saat pendekatan yang multidisiplinary dalam hal assessment, apalagi menyangkut holistic approach suatu prasyarat yang mutlak, kedua Membuka pintu seluas-luasnya untuk ilmunya dapat dipelajari dari kalangan ilmu lain; banyak contoh ahli psikologi sendiri bukan psikolog pada awalnya seperti dicontohkan Pak Neil, saya mau menambah daftarnya seperti Kurt Lewin yang ahli Fisika, jg yang lainnya.  Ironisnya kelas Item Response Theorynya Prof Linacre yang baru lalu hanya 2 psikolog, yang lainnya Matematika, IT, Manajemen… …..pada kemana hayo? di Pasca sajana Psikologi UI aja ada pelbagai bidang yang bisa dipelajari oleh non psikologi dan untuk jenjang S-3 juga bukan prasyarat mutlak harus psikolog kan.
 
Pada para profesi HR, juga harus bergabung membentuk badan yang mengawasi hal ini jadi kayak IPMAAC (International Personnel Management Association for Assessment Council) agar tata laksananya akan berjalan dengan baik.
 
Jadi memang kalo mau “bener”, etika aja nggakk cukup (maaf lho), tata laksana, prosedur serta sarana pendukungnya juga harus mumpuni kalo enggakk waduh syusyahnya akan minta ampun.
 
Salam
 
HRW  

neil rupidara <nsrupidara@yahoo. com> wrote:

Salam kenal pak Sandi,

Sikap yang bijak, tetapi jujur saya masih belum paham benar dengan arah/maksud pernyataan bapak soal etika (dan juga filsafat ilmu). jelas etika adalah pegangan ‘sikap dan perilaku’ dan itu turun dari pandangan2 mendasar/filosofis tentang ilmu itu. siapapun yang ‘hidup’ dalam komunitas (ilmu/profesi) tertentu perlu paham dan bermain dalam tatanan etika/filsafat hidup komunitas itu, termasuk memenuhi standar kompetensinya. itu jelas, sangat jelas. namun, saya kira itu lalu tidak berarti cuma lulusan pendidikan psikologi saja yang bisa memenuhi tuntutan etika/filsafat dan standar kompetensi ‘berpraktik’ di wilayah ilmu psikologi, apalagi untuk melakukan tes dan menginterpretasi hasil tes tertentu (bukan semua jenis tes saya kira). jika bapak memandang bahwa itu cuma monopoli sarjana psikologi saja, saya kira sah2 saja, tetapi bagi saya cakrawalanya menjadi sangat sempit.

Ini hampir sama seperti sebagian teman2 saya (saya background ekonomi, tapi bukan ilmu ekonomi, tetapi ilmu manajemen) (dugaan saya cukup banyak ekonom di negeri kita ini) yang menilai bahwa “mana ngerti orang-orang matematika tentang persoalan ekonomi”. benar, orang matematika tidak belajar ekonomi sebagaimana mahasiswa/sarjana ekonomi. tetapi, orang ekonomi lupa bahwa banyak rumus-rumus ekonomi yang dipakainya adalah hasil karya para ahli matematika (mis. john nash dengan game theory). jadi, akhirnya sikap gagah berani tadi hanya menjadi bahan lelucon di lingkungan orang2 yang benar2 paham.

Satu bukti yang paling menonjol dalam dunia bisnis dan manajemen adalah mahaguru atau bapak ilmu manajemen, peter drucker. peter drucker adalah pemikir no. 1 di bidang bisnis selama bertahun-tahun. si drucker ini ternyata tidak punya background resmi pendidikan bisnis dan manajemen. dia doktor ilmu hukum internasional/ publik. lalu apakah karena itu sekarang kita bisa men-delegitmasi otoritas dan kontribusi peter drucker di dunia manajemen? apa berani saya/kita?

Jika bapak telusuri background keilmuan sejumlah intelektual kelas dunia, bapak mungkin akan lebih menghargai bahwa wilayah keilmuan terkadang sedemikian cair. Cross-learning terjadi sedemikian rupa sehingga memerkaya satu terhadap yang lain. Di bidang bapak, ambil contoh Sigmund Freud yang doktor medis (neurologi) memanfaatkan analisis termodinamika untuk diaplikasikan pada psikoanalisis. Atau Noam Chomsky yang ahli lingustik tetapi berpengaruh kuat di psikologi kognitif dan teori2 perilaku (Catatan: untuk membuktikan ini saya juga bergerilya di google). Dan, banyak sekali contoh lain di bidang2 lain. Karena itu, batas-batas bidang keilmuan dan kepraktikannya, walaupun perlu digawangi oleh sistem filsafat dan etikanya, toh tidak perlu dipagari dengan dinding tebal dan tinggi.

Dalam wilayah “perdebatan ini”, berikut sebuah link ke sebuah kesaksian berkaitan dengan kewenangan melakukan (dan menafsir) tes psikologi yang akhirnya memenangkan sebuah keputusan yang membatalkan hak eksklusif Indiana State Psychology Board dalam penyelenggarakan tes2 psikologi. juga kutipan dari sebuah situs psikologi (bisa dicopy-paste dan temukan dengan google) yang ‘betul2’ membatasi otoritas tes dan interpretasi pada sebagian (bukan semua) tes psikologi. mudah2an membantu membangun sikap yang lebih terbuka.

http://www.fairacce ss.org/national/ maryland/ art_testimony

several tests can only be administred by licensed psychologists who
have completed courses in administring the test.

Namun, saya setuju untuk kita mendorong wacana kompetensi dan etika. jadi, khususnya yang bermain di wilayah2 formal, siapapun yang menggunakan tes psikologi sebagai instrumen perlu menyadari bahwa ia menggunakannya dengan benar dan bertanggung jawab. sehingga, jangan ada juga yang sok jadi ahli psikotes (gadungan), walau “baru belajar tadi malam”. kalau mental ini yang berkembang ya parah sekali keadaan kita. tiap orang perlu menyadari kelebihan dan kekurangannya, dan menempatkan diri untuk menjadi pembelajar yang sungguh jika ingin menguasai suatu hal.

Mohon maaf jika tidak dinilai kurang berkenan. Yang pasti saya tidak hendak mengatakan bahwa saya tahu psikologi apalagi lebih tahu psikologi dari para ahlinya. Tidak. Ini hanya untuk membangun wacana dan sikap yang lebih longgar tentang ilmu dan profesi, dengan tetap menempatkan sikap hormat yang tinggi atas ilmu-pengetahuan dan profesi.

salam
neil
— On Sat, 6/7/08, sandi K <seinama2003@ yahoo.com> wrote:

From: sandi K <seinama2003@ yahoo.com>
Subject: [Diskusi HRD Forum] Psikotest
To: Diskusi-HRD@ yahoogroups. com
Date: Saturday, June 7, 2008, 1:53 PM

seru sekali membaca tentang psikotest dalam forum ini.
saya pribadi, tidak akan banyak memperdebatkan masalah yang sudah ada.
satu hal, kita sebagai manusia tentunya punya etika. demikian pula ada yang namanya etika profesi.
masing-masing profesi memiliki etikanya sendiri, sehingga akan lebih bijaksana bila memahami hal tersebut.
 
lalu, alat tes psikologi memang dapat dibeli dengan mudah di beberapa toko buku. silahkan beli dan pelajari, tidak ada yang melarang,kan. hanya, jangan sampai cukup beli, pelajari lalu merasa mampu dan prkatek. karena ada kaidah-kaidah filsafat di balik terciptanya alat tes tertentu. bukan sekedar lihat, baca, hafal dan praktekan.
 
tetapi, saya hanya menyarankan. mari kita kembali ke “etika”
etika hidup sebagai manusia
 
salam,
 
Sandi Kartasasmita 
Head of Undergraduate Program
Psychology Faculty
Tarumanagara University
(021) 5661334
 
—– Original Message —-
From: Eka Bernard <Eka.hrd@gmail. com>
To: Diskusi-HRD@ yahoogroups. com
Sent: Saturday, June 7, 2008 12:31:15 AM
Subject: Re: Bls: [Diskusi HRD Forum] Psikotest

Terima kasih mas tanpa nama atas masukan nya, saya setuju sekali mas dengan uraian sampeyan yang dengan bijak telah memberi gambaran buat kita semua akan pentingnya belajar diluar hal-hal disiplin ilmu kita. Setau saya memang harus nya seorang hr adalah orang yg mau belajar mengenai hal-hal di luar disiplin ilmunya, kalo tidak bagaimana bisa mengerti bussiness process, analisa kebutuhan training secara individual yang sesuai dengan karakteristik divisi dst yang menjadi bagian tugas keseharian hr. Ilmu hr adalah gabungan berbagai disiplin ilmu yg arah nya satu yaitu management hrd.

Namun yang agak menggelitik saya adalah ketika kita masuk pada gelar profesi, beserta kode etik profesi.
Semua orang boleh tau ilmu kesehatan tapi untuk jadi dokter yang punya pasien ? nanti dulu.. yang netapkan ini IDI, lembaga resmi kedokteran.

Semua orang boleh beli dan baca UU No.13 thn 2003 tp utk berarcara di pengadilan ? belom tentu..yang netapkan ini juga lembaga resmi pengacara.

Semua orang boleh baca ingredients obat dan pelajari buku nya, misal kalo vitamin A, D, E, K  berapa sih standar FDA nya, tuk Calcium berapa sih dosis idealnya, bagaimana cara  kerja Calcium dalam tubuh, lebih save mana konsumsi intra muscular atau intraventricular, dst, tapi tidak lantas langsung boleh buka apotek, yang netapkan juga lembaga resmi pemerintah.

begitu juga dengan psikolog,  banyak kok alat tes di gamedia atau yg bisa dibaca, dicopy, di pelajari scoring dan interpretasinya tidak harus psikolog, sementara ada juga alat tes yang harus psikolog yg melakukan analisa dan interpretasi, yang netapkan ini himpsi.

Artinya ada penghargaan dan persyaratan lebih ketika kita sudah masuk ke dalam “suatu” area profesi tertentu. Alangkah baiknya kita di sini saling mengetahui area profesi masing-masing saling share tentang informasi tanpa berusaha “masuk” ke area profesi tertentu.

Demikian sedikit lontaran dari saya, kurang lebih nya saya mohon maaf dan sekali lagi terima kasih untuk masukan bapak/ibu, mas/mbak tanpa nama.

eka

2008/6/6 HRD PGA1 <hrd_pga1@yahoo. co.id>:

Prinsipnya tidak sperti itu mas eka atau lainnya
 
Dalam hidup ini kita harus belajar dan menambah ilmu, belajar bukan hanya lewat jenjang pendidikan resmi. Itu hanya alat. Tp bukan berarti kita tidak boleh belajar.
 
Naïf sekali kalau saya apoteker dilarang mengerti managemen atau ekonomi hanya karena saya bukan lulusan megister management.
Naïf sekali kalau saya lulusan management dilarang mengerti psychology hanya karena tidak lulus S2 physchology.
 
Memang saya tidak praktek dokter, tp naïf sekali kalau saya dilarang mengerti masalah kedokteran hanya karena lulusan ekonomi,
dan kita cukup belajar yang sederhana saja, kalau DB makan buah Jambu batu.. wajar donk… toh dalam kehidupan yang dibutuhkan adalah kesederhanaan dan simple way..
 
Toh apa yang kita pelajari semua ini tidak semua terpakai dalam hidup kita……
 
Banyak orang yang pinter SDM, mereka lulusan teknik,
Banyak motivator, justru lulusan tehnik, ekonomi… banyak orang termotivasi karenanya…
 
Yang pasti, jangan pernah mengekang ilmu, jangan mengekang untuk belajar…. Universitas dan ijiasah adalah hanya sarana bukan tujuan… hanya sebagian sebagai alat ukur, not for all the things
Dan jangan pernah berhenti belajar hanya karena terbatas keuangan…. Uang not everything….
 
inilah penyakit kita, sekarang banyak kita yang miskin dan tidak bisa pinter karena tidak bisa sekolah. sekolah tolak ukurnya adalah uang…
—– Pesan Asli —-
Dari: Eka Bernard <Eka.hrd@gmail. com>
Terkirim: Jumat, 6 Juni, 2008 13:55:53
Topik: Re: [Diskusi HRD Forum] Psikotest

Dear rekan,

Saya lulusan Psikologi tapi belum profesi, karena saya belum profesi saya belum berhak menginterpretasikan hasil psikotes, tapi karena ada rekan dengan background hukum boleh belajar pelaksanaan, skoring dan interpretasi psikotes, berarti saya juga boleh dong berpraktek pengacara, atau notaris, kan S2 Notaris mahal, enak lho jadi notaris, bikin konsep surat tempel materai trus dapet uang, pa lagi kalo soal jual beli tanah, atau mending saya praktek dokter spesialis aja, kan biaya kuliah dokter dan dokter spesialis mahal, dokter spesialis jantung banyak pasiennya, sekali konsultasi lebih mahal dari konsultasi psikologi, obatnya mahal-mahal belum lagi komisi dari perusahaan obat, atau saya jadi apoteker aja kuliah farmasi susah lho, belum stage susah lulusnya, enak bisa buka apotek.

Sorry, no offense, hanya renungan apa begini kita mau buat ? saya yakin lulusan hukum gak akan rela, kalo lulusan psikologi jadi notaris atau pengacara, para dokter gak akan rela kalo lulusan psikologi jadi dokter spesialis jantung, dan para lulusan farmasi gak akan rela kalo lulusan psikologi jadi apoteker.

Kita gabung di milis ini milis tentang hrd, yang setiaaapp saat dijejali dengan hal-hal yang berbau normatif, tapi dengan pola fikir seperti itu malah kita sendiri yang melanggar hal-hal normatif, apa gak ngenes dengan pola fikir seperti itu ? apakah pencerahan yang akan kita dapat ? saya fikir yang kita dapat malah pengkaburan.

Sekian komentar dari saya, kurang lebihnya saya mohon maaf.

Eka Bernard
Sarjana Psikologi yang belum Profesi.

2008/6/6 mahmoud herudinejad <mahmoudherudinejad@ yahoo.com>:

salam mualaykum,

Pigimana kalo gini aja, yang Non Psikolog back ground mau punya
keterampilan dibidang assessment dan psikometrik assessment ya
silakan, tinggal usul ke moderator ngadain program workshop :
Psychometric Assessment for Non Psychology Background —> jadi
welcome to non psychologist.

Untuk Yang sarjana psikologi yang mau memperdalam bidang assessment
tinggal usulin buat program shortcourse untuk pendalaman :
Psikometrik Assessment yang berupa Intelektual Assessment,

Personality Asessment (objective and Projective), Occupational

Assessment, dan yang sejenisnya.

Untuk yang udah psikolog juga mari memperdalam alat-alat kita dengan
teknologi dan alat yang uptodate, temen-temen yang mau memperdalam
inventory bisa mulai memperdalam Personality Assessment Inventory
atau 16 PF Global Factors, yang projective kalo mau memperdalam
Rorschach dengan RIAP5 atau MMPI2, Intelektualnya : IST2000, K-BIT,
C-TONI.

Tampaknya Niat saja tidak cukup harus dioperasionalkan dalam
tindakan nyata, mari kita lihat apakah moderator juga tanggap dengan
hal ini.

wasalamun alaykum

HRW

NB: niatan untuk selalu menghargai profesi masing-masing serta
dibutuhkan tingkat kearifan dan kebijakan yang mumpuni agar dapat
terselenggara program yang diusulkan dengan baik, saya yakin dengan
modal ini kita bisa lebih maju.

— In Diskusi-HRD@ yahoogroups. com, robert herdi <herdi_wb@…>

wrote:
>
> Dear all….
>
> Semoga jawaban/tanggapan mas jayadi bukan jawaban sarjana
psikologi yang sakit hati karena belum berhasil ke jenjang psikolog
karena faktor ekonomi …
> Saya setuju sekali jika dikatakan bahwa biaya pendidikan S2
(Profesi) mahal … tapi sama seperti jadi notaris dan
dokter …yang juga profesi …ya memang wajar mahal karena ada
embel-embel profesi nya itu …tapi saya tidak setuju jika dikatakan
bahwa karena mahal maka yang bisa jadi S2 Psikologi / Psikolog haya
yang kaya … saya nggak kaya lho mas … you know me lah… Yang
kaya memang kemudian menjadi punya kesempatan lebih besar dari yang
kurang kaya…tapi bukan berarti yang pas-pas an secara ekonomi lalu
tidak bisa mengecap pendidikan level tersebut ….
> Kalo yang psikolog pasang harga…ya rasanya wajar juga …ada
kualitas ada harga…dalam bidang psikologi lho….kalo psikolognya
berkualitas ya harganya mahal…wajar. ..kalo psikolognya kurang
OK ..rasanya juga nggak pasang harga tinggi…lalu tidak sedikit
juga lho psikolog yang jiwanya cukup sosial, realistis dan istilah
lainnya…sehingga walaupun berkualitas tetap mau membantu yang
membutuhkan meski dengan harga yang …negotiable. ..
> Dan perlu diingat dan dipahami semendalam mungkin …bahwa
psikotes…adalah tools seleksi…harus pake psikotes atau
tidak …TIDAK ADA YANG MENGHARUSKAN. …jika anda bukan psikolog dan
mampu menseleksi orang dengan baik tanpa psikotes…why not…nggak
ada yang salah….
>
> Itu urun komentar saya…meski terlambat 1 tahun tapi nggak ada
salahnya untuk mengangkat kembali dan mengomentari teman saya
ini…peace. ..
>
> HERDI
>
>
> Albert Jayadi <xhirho@…> wrote:
> Dear All ….
>
> Setelah membaca semua e-mail dengan topik “psikotest” ini, saya
hanya bisa tersenyum karena sebenarnya permasalahan yang ada disini
merupakan LINGKARAN SETAN dan efek dari dunia pendidikan kita yang
sudah dibisniskan. Mau dibilang “legal” atau tidak, sebenarnya tidak
ada ukuran dan hukumnya. Lagi pula jika sekarang banyak mereka yang
bukan lulusan psikologi atau bukan psikolog, menurut saya fenomena
itu dikarenakan apa yang disediakan oleh dunia pendidikan tidak
dapat men-supply kebutuhan dan modal / dana yang tersedia di
lapangan. Biaya pendidikan yang mahal, membuat hanya anak orang kaya
saja yang bisa menuntut ilmu hingga S2 dan Psikolog sedangkan mereka
yang tidak mampu serta pas2an … cukup jadi sarjana psikologi.
Tuntutan salary dari para psikolog pun cukup tinggi walaupun mereka
cuma berbekal teori dari kuliah mereka di S2. Hingga terkadang
organisasi lebih memanfaatkan para sarjana psikologi, khususnya
mereka yang sering melakukan praktek lapangan, sering magang di
> biro2 psikologi. Toh mereka terkadang lebih mempunyai kualitas
yang lebih baik daripada para psikolog yang kepenuhan dengan teori.
>
> Maaf jika pendapat saya agak “keras’, namun selalu terbuka dengan
segala masukan. Semoga bisa menjadi lebih baik adanya…. Karena
menurut saya rekrutmen memiliki perang sangat penting dalam
perusahaan kecuali perusahaan yang melakukan recruitment based on
relation or connection hehehehe…
>
> Warm Regards
> Albert Jayadi
>
> Olivia.Rivera@ … wrote:
> Dear all,
> Proses seleksi dan rekrutmen bisa dilakukan oleh mereka yang bukan
berlatar belakang pendidikan psikologi ?
> Mungkin bisa saja, namun beberapa bulan lalu saya pernah mengikuti
perkulihan pembuka yang dibawakan oleh Prof. Soetarlinah (salah satu
pakar kognitif di Indonesia) yang menginformasikan bahwa mereka yg
berlatar belakang psikolog (bukan hanya sekedar sarjana psikologi)
yang berhak menggunakan alat-2 test, termasuk menentukan metode
pengukuran untuk melakukan proses seleksi.
> Terlepas dari mereka yang bukan psikolog tapi bisa menggunakan
alat-2 test dll. tsb. yang menjadi penekanannya adalah legal atau
tidak hasil yang diperoleh.
>
> salam
> —– Forwarded by Olivia E Rivera/JKT/SMF on 06/22/2007 08:54 AM –
—-
> azis@…

> Sent by: Diskusi-HRD@ yahoogroups. com 06/21/2007 01:43

PM Please respond to
> Diskusi-HRD@ yahoogroups. com
>
>

> To
> Diskusi-HRD@ yahoogroups. com cc

>
> Subject
> Re: [Diskusi HRD Forum] Psikotest
>
>
>
>
>
>
>
> Dear Ibu Ernica,
>
> Dengan tidak mengurani rasa hormat saya kepada rekan-rekan yang
berlatar-belakang psikologi, sebenarnya Ibu bisa saja kok untuk
menjalankan proses seleksi dan rekrutmen dengan baik. Kuncinya
adalah Ibu perlu tahu kemampuan/kompetens i apa saja yang diharuskan
oleh perusahaan dan setelah itu mencari alternatif metode untuk
mengukur kemampuan/kompetens i tersebut. Proses seleksi dalam
penerimaan karyawan tidak dimaksudkan untuk mengenal karakter para
pelamar secara mendalam (karena hal tersebut tidak ada / sedikit
sekali kaitannya dengan pencapaian ROCE perusahaan), proses seleksi
penerimaan karyawan dimaksudkan untuk mendapatkan orang yang mampu
dan/atau bakalan mampu mengerjakan proses kerja yang dibutuhkan
melalui proses learning and development.
>
> Kemampuan dan kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan bisa
dilihat di bagian requirement pada job desc. Jika ibu kurang puas
terhadap akurasi dari dokumen tersebut, ibu bisa menelusuri proses
kerja yang dilakukan oleh posisi tersebut untuk mengidentifikasi
kompetensi/kemampua n kunci yang harus dimiliki untuk dapat
menjalankan proses tersebut dengan baik. Dari situ Ibu akan melihat
bahwa banyak sekali kemampuan yang harus dimiliki oleh pemegang
jabatan tersebut.
>
> Dari daftar kemampuan tersebut ibu kemudian perlu menyortir mana
kompetensi/kemampua n yang akan bisa dikuasai melalui proses
pembelajaran dibawah 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun, 3 tahun dan lebih
dari 3 tahun. Nah berdasarkan kategori inilah Ibu membuat prioritas
kemampuan yang harus dimiliki oleh para pelamar dalam proses
rekrutmen. Biasanya hal-hal semacam skill dan knowledge akan
menempati kategori-kategori awal sedangkan sikap dan perilaku akan
menempati kategori-kategori atas. Tentu saja Ibu bebas memodifikasi
kurun waktu tersebut sesuai kebutuhan Ibu.
>
> Setelah prioritas persyaratan itu selesai dibuat, Ibu perlu
menentukan metode untuk mengukur kemampuan para pelamar tersebut
untuk setiap persyaratan. Untuk kemampuan yang berbau skill dan
knowledge bisa diuji dengan metode wawancara, presentasi, test
tertulis, demonstrasi skill dll, sedangkan untuk kemampuan dalam
bidang sikap dan perilaku ibu bisa menggunakan metode Behavioral
Event Interview atau Competency Based Interview (info singkat
mengenai hal ini bisa dilihat di

http://en.wikipedia .org/wiki/ Job_interview). Adapun mengenai

persyaratan lain seperti kesehatan, pendidikan dll saya kira Ibu
sudah tau cara mengujinya.
>
> Setelah Ibu membuat semua kemampuan tersebut mempunyai metode
pengukuran yang tepat, Ibu kemudian perlu menambahkan keterangan
mengenai waktu, resources dan biaya dari setiap metode tersebut
beserta sedikit info mengenai pelaksana / vendornya. Setelah itu
urutkanlah metode-metode tersebut berdasarkan biaya, waktu dan
resources yang dibutuhkan. Hal ini perlu dilakukan agar dalam
menyusun kronologis proses seleksi kita bisa memakai filter
termudah, termurah dan tercepat untuk menyaring para pelamar yang
jumlahnya biasanya sangat banyak sebelum menggunakan filter yang
lebih sulit, lebih mahal dan lebih memakan waktu, sehingga
keseluruhan proses seleksi kita menjadi lebih efektif dan efisien.
>
> Jika rekan-rekan ingin menambahkan, saya akan sangat berterima
kasih.
>
> Sincerely,
>
>
>
> Abdul Azis Lihawa
>
>
> —– Original Message —-
> From: Ernica <ernica@…>
> Sent: Thursday, June 21, 2007 10:00:24 AM
> Subject: [Diskusi HRD Forum] Psikotest
>
> Salam HRD,
>
> Dikantor saya akan mengadakan psikotest untuk menyeleksi calon
karyawan, dan saya sebagai HR yang ditugaskan untuk itu, berhubung
saya backgroundnya hukum saya kurang pengalaman dibidang itu, dan
setau saya HRD yang dgn background psikologi yang berpengalaman
dibidang itu.
> Boleh tidak saudara2 dari forum HRD sekalian memberitahu atau pun
membimbing saya untuk dapat melaksanakannya? Karena rencananya saya
yang akan diberi kepercayaan untuk menyelenggarakannya dan menjadi
penilainya. Kalau mungkin ada yang prof dibidang psikotest yang
meliputi [papikostik, IST atau berbagai istilah tentang itu}dan cara
penilainanya bagaimana(scooring)
>
>
> Terimakasih saya yang terdalam,
> Icha
>
>
>
>
> ———— ——— ——— —
> Luggage? GPS? Comic books?
> Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.
>
>
>
>
> ———— ——— ——— —
> Yahoo! Toolbar kini dilengkapi dengan Search Assist. Download
sekarang juga.
>



Dapatkan info tentang selebritis – Yahoo! Indonesia Search.

__._,_.___

Spektakuler Workshop !!
"Salary Structure Based 3P Concept"
16 – 17 Juni 2008, Aston Atrium Hotel, Jakarta
http://www.HRD-Forum.com
HOTLINE : 08788-1000-100 | 0815 1049 0007 | 021-70692748 |
——————————–
Dapatkan Agenda Training Thn 2008 hanya di :
http://www.HRD-Forum.com
http://www.agenda.HRD-Forum.com
Untuk Pendaftaran dapat menghubungi HOTLINE kami di :
08788-1000-100 | 0815 1049 0007 | 021-70692748 |
——————————–
Diskusi-HRD@yahoogroups.com
Komunitas HRD Terbesar di Indonesia
YM : hrdforum
———————————–
Penting buat Praktisi HRD !!
http://hr-expert.blogspot.com/
http://management-hr.blogspot.com/
http://kpi-owner.blogspot.com/
http://compensations.blogspot.com/
http://recruitmentskill.blogspot.com/
———————————–
Service Kami meliputi ; Training/Seminar/Workshop baik InHouse maupun Public, Konsultasi, Recruitment & Selection khusus untuk posisi HRD, Assessment, Outdoor Activity Programs, Dll yang masih berhubungan dengan bidang tugas HRD.
————————————
Jika Anda belum bergabung kirimkan email ke :
Diskusi-HRD-subscribe@yahoogroups.com
———————
Dicari Freelance Trainer !
Anda mempunyai keahlian & pengalaman mengajar di bidang HR ?
Kirim CV anda ke ; HRD.Forum@gmail.com
Subject : Freelance Trainer
———————
http://hrd-forum.blogspot.com/
———————
bagi yang ingin Contoh-contoh KPI
http://kpi-owner.blogspot.com/
———————
http://free-toefl-test.blogspot.com/
http://management-hr.blogspot.com/
MARKETPLACE

Blockbuster is giving away a FREE trial of – Blockbuster Total Access. <!– var title = ‘TITLE’; try { if (title == unescape(‘%u0054%u0049%u0054%u004C%u0045’) && document.title) title = document.title; var https = false; try {https = document.location.href.indexOf(‘https’)==0}catch(e){} document.write(‘‘); } catch(e){} //–>

Recent Activity

Visit Your Group

New business?

Get new customers.

List your web site

in Yahoo! Search.

Yahoo! Groups

Join a program

to help you find

balance in your life.

Yahoo! Groups

Come check out

featured healthy living

groups on Yahoo!

.


__,_._,___

Written by brammantya kurniawan

June 10, 2008 at 9:53 am

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: