BeritaHR

Media Belajar Human Resources

Archive for the ‘Talent Management’ Category

Kompetensi vs Talent Management, Pilih Mana?

leave a comment »

Talent management merupakan sebuah proses untuk mengidentifikasi para karyawan perusahaan yang memiliki kapabilitas untuk menjadi future leaders/senior managers. Proses identifikasi ini didasarkan pada dua elemen kunci, yakni aspek kompetensi dan aspek kinerja (performance).

Dalam hal ini, kompetensi dapat diibaratkan sebagai input yang melekat pada seseorang, dan yang akan membekali dia untuk melakukan tugasnya dengan baik; sementara aspek performance (kinerja) merupakan hasil nyata (output) dari suatu pekerjaan. Idealnya, kompetensi dan kinerja (hasil) menjadi dua hal yang berkorelasi positif. Artinya, jika Anda memiliki kompetensi tinggi, maka hasil dan target pekerjaan juga dapat dicapai dengan baik. Namun kadang tidak selalu demikian. Misalnya, orang sales sudah memenuhi semua kompetensi yang dibutuhkan, namun karena mendadak ada peristiwa bencana alam (yang di luar kontrol dia), maka target penjualannya tidak bisa tercapai. Sebaliknya, bisa terjadi orang sales yang kompetensinya jelek (misalnya main serobot pelanggan teman, atau memakai uang suap kepada calon pelanggan) justru bisa menjual dengan sangat bagus (dan target pekerjaan bisa tercapai).

Karena itulah untuk menilai kualitas karyawan, Anda sebaiknya mengacu pada dua elemen di atas sekaligus, yakni aspek kompetensi (input) dan aspek kinerja (hasil). Nah, dengan matriks kompetensi dan performance inilah, kita menilai kapasitas karyawan, termasuk untuk keperluan talent management process. Calon bintang yang dipilih idealnya mereka yang memiliki kompetensi tinggi dan sekaligus kinerja (memberi hasil) yang baik; atau mereka yang memiliki kompetensi bagus, namun kinerjanya saat ini belum berkembang secara optimal (orang seperti ini dapat dipilih karena dia pada dasarnya memiliki kompetensi yang solid, dan karena itu bisa terus dikembangkan untuk menjadi future stars).

Dari penjelasan di atas, sebenarnya tidak ada yang perlu dipertentangkan antara kompetensi dengan talent management. Dalam hal ini, kompetensi merupakan satu elemen penting –selain aspek kinerja– dalam mengidentifikasi dan mengembangkan talenta karyawan menuju prestasi yang paling optimal.

Written by brammantya kurniawan

July 29, 2008 at 8:44 am

Hery Kustanto: Orang HR Harus Mau Kalahkan Ego

leave a comment »

Sumber : Portal HR

Kamis, 17 Juli 2008 – 14:54 WIB

Jika bajak-membajak talent telah dianggap lumrah dalam praktik rekrutmen di era penuh persaingan ini, maka perwujudannya yang paling konkret bisa disaksikan dalam industri pertelevisian. Hari ini Penyiar A kita saksikan di Televisi X, besok sudah mengudara di Televisi Y. “Ini hukum alam,” ujar Kepala Divisi HRD PT Surya Citra Televisi (SCTV) Hery Kustanto mencoba memahami gejala yang terjadi di dunia yang digelutinya. Dia merasakan bagaimana dinamisnya industri pertelevisian tahun-tahun belakangan ini. Ada semacam kegairahan yang sulit terlukiskan menjadi bagian dari sebuah dunia yang begitu cepat bergerak, dan berubah. Hery dan tim yang dipimpinnya harus senantiasa memastikan bahwa geraknya mampu mengimbangi laju perkembangan di luar sana.

“Kami baru saja menyelenggarakan assessment besar-besaran. Selain untuk mengantisipasi persaingan yang makin ketat, tentu saja terutama untuk konsolidasi internal supaya lebih fokus lagi usaha kita dalam proses pengembangan,” ungkap dia. Sebagai praktik untuk memetakan kompetensi karyawan, assessment sebenarnya bukanlah hal baru bagi SCTV. “Saya nggak tahu tivi-tivi lain, tapi kayaknya belum banyak yang serius menangani kompetensi,” tutur dia. Sedangkan di SCTV, assessment sudah dipraktikkan dalam dua tahun ini, dan yang dilakukan awal tahun 2008 lalu tergolong istimewa karena dilakukan serentak untuk hampir semua kepala divisi dan departemen. Hasilnya memang nyata. Seperti ditunjukkan Hery kepada PortalHR.com di kantornya di Senayan City, laporan hasil survei lembaga rating per akhir Juni 2008 menempatkan SCTV di urutan pertama sebagai stasiun TV yang paling banyak ditonton orang.

Tentu saja, sebagai orang yang mengepalai divisi yang mengurusi karyawan, Hery patut berbangga karena bagaimana pun sukses tersebut tak lepas dari kontribusi kerja kerasnya. Lahir di Pasuruan, 9 Januari 1962, lulusan dari Jurusan Sastra Inggris Universitas Kristen Malang ini awalnya menjejakkan kaki di SCTV sebagai supervisor penerjemah film. “Ada hikmahnya juga. Sebagai orang dari luar HRD, ketika saya sekarang memimpin HRD jadi bisa menghayati kebutuhan karyawan,” ujar bapak dari dua orang anak yang bergabung di SCTV sejak 1993 itu. “Waktu itu saya di SCTV Surabaya. Suatu hari manajer HRD di Jakarta harus studi ke luar negeri mendapatkan beasiswa Chavening Awards dan saya dipanggil untuk mengisi,” kenang dia.

Kebetulan, sebelumnya Hery sendiri memiliki kepedulian yang tinggi pada hal-hal yang berkaitan dengan pengembangan karyawan. “Dalam hati saya sering mengkritik HRD kok nggak ada training yang bagus. Ditambah kemampuan Bahasa Inggris saya yang waktu itu kebetulan masih banyak ekspatriat yang bekerja di SCTV sehingga sayalah yang dipilih untuk mengisi kekosongan manajer HRD,” kenang dia lagi. Tak sampai genap setahun menduduki posisi baru itu, Hery pun diangkat menjadi Manajer HRD. Dijelaskan bahwa struktur organisasi Divisi HRD di SCTV berada di bawah Direktur Operasional. Sebagai kepala divisi, Hery membawahi HR Services dan HR Development. “Dalam perjalannya kita mengembangkan satu lagi yakni HR Planning & Policy,” tambah dia. Total, ada 15 karyawan di HRD, yang mengelola 1300 karyawan.

Hery merasa cocok di HRD karena sesuai dengan sifatnya yang gemar berinteraksi dengan orang. “Menarik sekali, walaupun ada juga yang tak saya sangka-sangka bahwa di HRD juga harus mem-PHK orang, itu persoalan yang nggak pernah saya bayangin,” tutur dia. Di balik tutur bahasanya yang tipikal orang Jawa Timur, Hery menampilkan keramahan yang menyiratkan kehalusan perasaannya. Ia menyapa karyawannya yang melintas di depan ruang kerjanya, dan berbicara dengan nada pelan kepada anak buah yang datang kepadanya. Gayanya yang santai membuat orang yang baru pertama kali bertemu dengannya merasa sudah mengenal dekat dan akrab sebelumnya. Dia menunjukkan draft tulisannya yang akan dimuat untuk majalah intern edisi mendatang dan meminta komentar.

***

Dibesarkan dalam lingkungan yang agamis, Hery melihat adanya korelasi antara profesi di bidang HR dengan nilai-nilai spiritualitas. “Melayani orang itu berarti membantu orang, dan itu kegiatan mulia. Di sinilah tempat yang paling banyak kesempatannya membantu orang, dan kita nggak mengharap balasan. Kalau orang sale kan dagang, ada pamrihnya, kita nggak. Kita membantu, mereka nggak berterima kasih pun nggak apa-apa karena memang itu tugas kita,” papar dia seraya mengaku tidak mengerti mengapa masih ada persepsi bahwa orang HR itu musuh karyawan. “Orang HRD harusnya justru disukai di mana pun, karena dia melayani. Karena dia membantu memberikan solusi. Bagaimana logikanya, orang melayani kok dibenci?” tanya dia retoris. “Mungkin ada yang salah ketika melayani itu,” dia menjawab sendiri pertanyaannya. Hery punya trik dalam menjalankan aktivitasnya sebagai kepala divisi HRD.

Disadari bahwa pihaknya tidak mungkin bisa memuaskan semua orang. Namun, ia berusaha melakukan yang terbaik sehingga orang yang membenci dirinya tidak punya alasan lagi untuk terus membenci. “Caranya gimana? Sederhana, tapi sulinya bukan main: mengalahkan ego sendiri. Itu berat, tapi kalau bisa, kita akan lega.” Hery memberi contoh konkret. Sekali-dua ada karyawan yang kecewa padanya karena klaim yang tak bisa dipenuhi utuh sesuai permintaan, karena ada aturan yang memang membatasi. Kepada orang-orang tersebut, Hery selalu menyapa duluan setiap kali bertemu atau berpapasan. Sampai akhirnya, lambat-laun orang-orang tersebut berubah pikiran. “Itu yang tadi saya bilang mengalahkan ego, nggak mudah tapi kalau mau dan bisa itu melegakan,” tandas Hery.

Bicara mengenai HR sebagai mitra strategis bisnis, Hery dengan jujur mengakui, secara ideal pihaknya belum mencapainya. Namun, ia memastikan bahwa arah yang sedang dituju memang ke sana. “Yang jelas dalam hal ini kita menyadari bahwa HR harus peka dan aktif memenuhi kebutuhan perusahaan, tidak hanya menunggu. Antara lain kita aktif mengikuti rapat operasional sehingga selalu tahu apa yang sedang dilakukan di produksi, di news dan lain-lain. Kita juga mengikuti terus laporan posisi SCTV sehingga misalnya ranking dan share-nya turun, kita siap, tenaga di sana butuh pelatihan apa atau mungkin perlu tambahan orang.”

Ada satu pengalaman menarik ketika Hery mengambil studi S-2 Magister Management bidang HR di sebuah universitas di Jakarta. “Saya penasaran, training sudah banyak tapi saya pikir nggak lengkap kalau belum menempuh yang formal. Ternyata setelah kuliah, isinya itu, waduuuh…masih diajari gimana bikin job des, job analysis.” Henry mengambil hikmahnya. “Itu sekaligus meyakinkan saya, apakah langkah saya sudah benar sesuai teorinya,” ujar dia. Selain menguasai teori, dalam konteks mitra strategis, Henry juga menandaskan perlunya orang HR memahami benar manajemen keuangan untuk memahami “bahasa” CEO.

Layaknya para pimpinan HR umumnya, Hery mengungkapkan, salah satu tolok ukur kesuksesannya dalam menjalankan tugas adalah keberhasilan karyawan. “Melihat karyawan yang saya rekrut itu berhasil, tampil percaya diri dan masyarakat mengapresiasi kalau dia oke –di SCTV itu banyak– itu kepuasan bahwa kita merekrutnya benar memberi lingkungan dan pelatihan dengan benar, dan itu tak bisa dinilai dengan rupiah. Selain, tentu saja kepuasan standar ketika perusaaan berjalan baik, karyawan bisa kerja dengan baik, menerima gaji, sakit berobat gampang, itu jasa besar HRD meskipun tidak usah dipuji, tapi itu sudah prestasi,” papar dia. Ibarat dua sisi mata uang, di balik kepuasan tentu juga ada hal-hal yang tak menyenangkan. Bagi Hery, itu ketika menyaksikan karyawan yang direkrut “nggak jadi-jadi.”

Written by brammantya kurniawan

July 29, 2008 at 1:43 am

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.